Kapal Selam Nazi Jerman, Di Laut Jawa

Untuk pertama kalinya, sebuah kapal selam yang jika dilihat dari ciri-cirinya menunjukkan milik Nazi Jerman, telah ditemukan di Laut Jawa.

Apakah kepentingan kapal selam Nazi tersebut, sampai terlalu jauh menjelajahi lautan Indonesia ?
Pusat Arkeologi Nasional melakukan proyek penelitian, untuk bisa menjelaskan hal tersebut.

Sebuah cawan putih berlambang Nazi Jerman bermerk “Rieber Mitterteich” buatan 1941, dengan label "M" yang berarti "Marine". Diproduksi oleh Porzellanfabrik Joseph Rieber & Co. A.G di Bavaria. (Yunaidi - NatGeoIndonesia)

“Kami menemukan alat selam dan baju pelampung warna kuning yang di dalamnya masih ada tulang belulang,” 
“Sepertinya mereka sudah menggunakan alat selam ini, namun gagal untuk keluar dari kapal.” kata Shinatria Adhityatama, peneliti arkeologi bawah air dari Pusat Arkeologi Nasional. 

Pada bulan November 2014 yang lalu, perangkat GPS yang dilengkapi dengan Sonar sudah dipasang pada kapal yang digunakan oleh tim arkeologi, untuk menggambarkan kondisi kontur dasar laut yang tergolong aneh tersebut. Tepatnya sekitar 100 Km arah timur laut, dari kepulauan Karimunjawa.

Saat itu dilakukan penyelaman oleh tim, untuk meneliti sebuah rongsokan besi tua. Proses penjelajahan yang dilakukan di dalam rongga yang dihuni oleh berbagai jenis ikan itu sebenarnya cukup berbahaya.

“Intinya memang harus hati-hati karena di dalamnya banyak kerangka manusia yang harus dihormati. Kita tidak memindahkan kerangka tersebut. Kita membiarkan di tempatnya sebagai permakaman perang.” kata Shinatria Adhityatama, menerangkan.

Didalam pecahan kapal selam tersebut, tim penyelam juga menemukan alat selam, harmonika, beberapa botol bir, sisa misil torpedo, bermacam jenis panel listrik.
Selain itu juga ditemukan sol sepatu, binokular, kacamata pelindung, selang pernapasan, dan peralatan makan seperti piring, cawan, dan juga cangkir.

“Sasaran kita adalah dapur. Banyak penelitian kapal sebelumnya melakukan identifikasi kapal melalui piring,” 
“Di kapal selam itu kami menemukan piring bercap lambang Nazi.” ujar Adhityatama. 

Kaca mata pelindung ini ditemukan oleh arkeolog di bagian ruang kendali yang tinggal separuh karena hantaman torpedo. Diduga berfungsi melindungi mata ketika menembak atau melindungi mata dari hempasan air laut saat di anjungan komando. Di sekitar kaca mata ini ditemukan pula binokular dan dua tengkorak manusia. (Yunaidi - NatGeoIndonesia)

Dalam kesimpulannya, Pusat Arkeologi Nasional mengidentifikasi temuan ini sebagai U-Boot (Unterseeboot) bertipe IXC/40. Tampaknya, hantaman torpedo yang dahsyat,sebagai penyebab kapal selam ini terbelah menjadi dua bagian,
Hingga kini titik lokasi tenggelam, dari bagian buritannya juga masih belum jelas.

Armada kapal selam Nazi terbagi dalam kelompok dengan misi-misi tertentu. Salah satu grup tersebut diberi sebutan “Gruppe Monsun”, yang pada tahun 1943-1945 ditugaskan untuk beroperasi di wilayah Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.

“Kita berangkat dari sebuah teori bahwa armada Jerman itu ada di Indonesia saat Perang Dunia Kedua, 
“Mereka tidak cuma lewat atau mengisi bahan bakar, melainkan juga punya aktivitas yang cukup penting.” katanya menerangkan.


Shinatria Adhityatama juga mengungkapkan, jika invasi Jerman ke Rusia dalam Operasi Barbosa saat itu berhasil, maka akan semakin memudahkan hubungan komunikasi antara Jerman dan Jepang.
Namun kenyataannya Jerman tidak berhasil menguasai Rusia.
Maka tempat lain yang bisa digunakan sebagai basis pertemuan dengan Jepang adalah di Samudra Hindia.
Mempertimbangkan posisi Jepang yang saat itu sudah menguasai Asia Tenggara.
Untuk alasan itulah maka Hitler membentuk "Gruppe Monsun", sebagai bagian dari rencana besarnya.

Dua cangkir, salah satunya tak berpegangan, ditemukan di ruang torpedo haluan depan. Di ruangan yang sama juga berserak tinggalan awak lainnya seperti kancing, wadah krim buatan Amerika Serikat, harmonika, selang pernapasan, sol sepatu, dan kaca mata pelindung. (Yunaidi - NatGeoIndonesia)
Sol sepatu dengan model yang berbeda ini ditemukan di ruang torpedo. Ukurannya 41-42 dan 39-40. Arkeolog menduga, bentuk sol yang meruncing tampaknya bagian dari sepatu seragam resmi, bukan sepatu harian. (Yunaidi - NatGeoIndonesia)

“Aktivitas mereka dalam "Gruppe Monsun" memang masih diselimuti misi-misi rahasia,”
“Padahal, menurut saya peranan mereka cukup berarti. Mereka sedang membangun jaringan.” pungkas Shinatria Adhityatama, peneliti arkeologi bawah air dari Pusat Arkeologi Nasional. 

German submarine U-534 - Wikipedia.org

Sumber : National Geographic Indonesia (http://nationalgeographic.co.id)